Kekuatan Dalam Ketenangan

4 07 2009

Kekuatan dalam Ketenangan

Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia
kehendaki dan memberi petunjuk orang-orang yang taubat
kepada-Nya. Yaitu orang-orang yang beriman dan hati
mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah.
Sadarilah hanya dengan mengingat Allah hati akan
tenang. (Ar-Ra”2728).

Ayat di atas dipetik dari surat Ar-Ra’d yang berarti
guruh. Disebut surat Ar-Ra’d karena ada bagian yang
menyinggung tentang guruh, yakni pada ayat ke-13 yang
berbunyi, Dan guruh itu bertasbih sambil memuji Allah.
Ayat ini memberi pelajaran kepada manusia bahwa guruh
pun bertasbih, apalagi semestinya manusia.

Sedangkan ayat ke-27 dan 28 yang tertera di atas
menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) akan
memberi petunjuk dan bimbingan kepada orang-orang yang
bertaubat kepada-Nya. Artinya, orang-orang yang sadar
lalu kembali ke jalan Allah; orang-orang yang telah
menyesali perbuatan-perbuatan tercela yang pernah
dilakukannya.

Dijelaskan dalam ayat ke-28 bahwa, Yaitu orang-orang
yang beriman. Artinya, dengan bertaubat itu berarti
kembali memasuki kancah keberimanan atau kembali
melakukan kewajiban-kewajiban sebagai orang beriman.
Hal tersebut dibuktikan dengan banyak mengingat Allah
sehingga tidak mudah lagi terpeleset dari jalan
petunjuk. Dalam keadaan demikian itu, jiwanya menjadi
tenang dan tenteram, karena memang ada jaminan dalam
lanjutan ayat itu bahwa, Dengan banyak mengingat
Allah hati akan tenteram.

Orang yang telah melalui proses ini–yaitu menyongsong
gerbang taubat dan memasuki istana iman–lalu
memanfaatkan kondisi tersebut untuk selalu mengingat
Allah, maka itulah orang yang telah mendapat
kebahagiaan yang tiada bandingannya. Apalagi dalam
kondisi seperti sekarang ini, ketenangan jiwa sungguh
sangat mahal harganya. Bukankah di sekitar kita
sekarang penuh dengan hal-hal yang memproduksi
kegelisahan, kecemasan, keputusasaan, keraguan, duka
cita, dan lain sebagainya? Kalau kita tidak memiliki
ketenangan jiwa, tidak memiliki pegangan kuat, dan
tidak mempunyai pandangan, niscaya mudah
terombang-ambing.

Ketenangan jiwa membuat orang dapat hidup tenang.
Inilah yang sangat diperlukan pada situasi seperti
sekarang, di tengah-tengah gelombang kehidupan yang
serba tidak menentu. Apalagi bagi seorang pemimpin
yang bercita-cita mewujudkan kecerah-ceriaan masa
depan bagi negeri yang sedang terpuruk ini. Hanya
orang yang memiliki ketenangan jiwa yang dibalut oleh
iman dan dzikrullah yang dapat berpikir tenang;
berpandangan jitu, dan mampu membuat program yang
mengenai sasaran untuk kepentingan manusia dan
kemanusiaan.

Sekarang ini kita bukannya miskin manusia intelek,
tetapi ibu-ibu di negeri ini tidak subur rahimnya
untuk melahirkan insan-insan yang memiliki jiwa dan
pikiran tenang. Yaitu insan yang tidak terkontaminasi
dengan virus kegelisahan, kecemasan, keputusasaan, dan
keraguan.

Hendaknya secuil ketenangan jiwa yang telah kita
peroleh bisa senantiasa dipelihara, kita pupuk dengan
shalat, shiyam, baik yang fardhu atau yang sunnah,
infaq, dzikir, dan tadabbur (telaah) Al-Qur’an. Insya
Allah semua itu akan menghidupkan hati, menenangkan
jiwa, membuka pikiran, dan meluruskan langkah. Lebih
jauh dari itu, akan mengantar kita agar dapat
terhindar dari kesulitan di akhirat, yang sekaligus
akan mempermudah kita dalam urusan dunia ini.

Sekarang ini kita tidak mengharapkan lahirnya pakar
manajemen yang telah menghabiskan separoh umurnya
belajar dari satu negara ke negara yang lain, namun
kering dari nilai-nilai wahyu. Tapi yang diharapkan
adalah yang tercerahkan dengan wahyu dan kaya dengan
bahan perbandingan.

Kita bisa belajar dari sejarah. Kaisar Romawi,
Heraclius, beberapa saat setelah pasukannya dipukul
mundur oleh tentara Muslim, dia bertanya kepada
pembesar-pembesarnya, Kabarkanlah kepadaku tentang
kaum Muslimin yang memerangi kalian itu. Bukankah
mereka juga manusia seperti kalian?

Pembesarnya menjawab, Benar.

Kaisar bertanya lagi, Lalu mana yang lebih banyak
jumlahnya, kalian atau mereka?

Para pembesar menjawab, Jumlah kami lebih banyak.

Kaisar melanjutkan pertanyaannya, Kenapa kalian bisa
kalah?

Seorang tua di kalangan pembesar menjawab, Karena
tentara Islam shalat di malam hari dan berpuasa di
siang hari, mereka menepati janji, melaksanakan amar
ma’ruf dan nahi munkar, saling membagi, tidak saling
mementingkan diri. Yang menyebabkan kita kalah karena
kita gemar minum khamr, berzina, suka melakukan yang
haram, terbiasa melanggar janji, mudah marah, berbuat
zhalim, memerintah dengan kekerasan, mencegah dari hal
yang diridhai Allah, dan kita banyak berbuat kerusakan
di muka bumi ini.

Kaisar Heraclius berkata, Lewat keteranganmu ini
membuat aku yakin bahwa kita memang pantas dikalahkan
oleh mereka, dan mereka akan merebut dan menguasai
tempat berpijak kedua telapak kakiku ini.

Kita dapat melihat bahwa kemenangan yang dicapai ummat
Islam bukan hanya dengan mengandalkan persenjataan
yang lengkap dan jumlah personil yang banyak, tapi
terletak pada ketaatan dan kepatuhan berpegang teguh
pada ajaran yang dianutnya. Dalam kondisi genting pun
tetap menjaga moral dan mematuhi norma-norma yang
telah digariskan untuknya. Mereka memiliki ketenangan
jiwa dan pikiran jernih, baik panglima perangnya
ataupun perajurit-prajuritnya. Mereka mampu menahan
diri melihat lawannya berpesta khamar dan melampiaskan
nafsu seksnya. Kaum Muslimin sadar bahwa dalam
ketenangan dan pengendalian dirilah terletak potensi
maha raksasa untuk mencapai kemenangan. Wallahu
alam.* (Manshur Salbu/Hidayatullah)

Advertisement

Actions

Information

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.